| Laporan Pandangan Mata Kunjungan ke DC Hsinchu |
| Written by Yuherina Gusman |
| Saturday, 26 September 2009 09:25 |
|
Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar... Lailaahaillallahuallahuakbar Allahuakbar walillailham....
Gemuruh takbir menggetarkan gedung kunjungan di Detention Center Hsincu. Sebanyak 80 orang detainee wanita bersama Yuherina Gusman perwakilan FORMMIT Utara Dua, Haji Aslam dan Pengurus Masjid Longkang selaku perwakilan Cina Moslem Association melafazkan takbir diselingi haru dan airmata yang tak terbendung lagi. Para petugas DC Hsincu pun terpaku atas khidmat yang tercipta, membekukan sekaligus menghangatkan hati.
Kunjungan ke DC Hsincu bukanlah kunjungan yang pertama, namun selalu saja ada wajah baru yang hadir bersama dengan permasalahannya masing-masing. Delapan puluh orang yang berada di sana, rata-rata telah berada selama 5-6 bulan. Paling lama 2 tahun karena masih ada beberapa sidang yang harus dijalani dan paling baru satu minggu, terjerat dalam DC karena menyerahkan diri. Alhamdulillah, satu detainee sudah berhasil dipulangkan beberapa hari menjelang Idul Fitri dengan memberikan bantuan dana dari uang zakat yang terkumpul. Satu detainee lain yang juga diberikan bantuan dana, terpaksa harus menunggu lebih lama karena jumlah bantuan yang diberikan tidak mencukupi.
Senada dengan kunjungan kebeberapa DC lainnya di Taiwan, rata-rata para detainee yang tertangkap memang karena kabur dari majikan. Ada dua kasus yang cukup menarik perhatian kami saat itu, yakni empat orang detainee (satu pria, tiga wanita) dijebloskan ke penjara karena jebakan dari majikannya dan satunya menyerahkan diri karena masuk ke Taiwan dengan status kawin kontrak. Namun selama proses perjalanan karirnya di Taiwan hanya dijadikan sapi perah bagi agen dan juga ibu mertuanya. Beliau sudah delapan bulan lantang-luntung di DC tanpa ada kepastian akan dipulangkan.
Di hari nan fitri dan penuh limpahan rahmat-Nya, kami hadir dengan membawakan beraneka makanan tradisional Indonesia. Ada wajik, lepet, pastel, kue lapis, bolu gulung bahkan juga aneka kue kering khas lebaran. Semuanya merupakan sumbangan dari Muslim Taiwan. Wajah haru bertaburkan senyuman dihadiahkan mbak-mbak dalam silaturrahmi yang cukup panjang itu. Sambil menikmati makanan satu per satu curhatan meluncur dari bibir mbak-mbak yang hadir, dan meminta bantuan mahasiswa untuk mengkomunikasikan kepada pihak DC. Seperti makanan mereka yang masih terkontaminasi babi, jadwal menelpon keluarga yang dibatasi hanya 5 menit saja bahkan jika petugasnya kurang bersahabat dibatasi hanya 3 menit saja. Jika mereka mendapat kunjungan dari rekan-rekan mereka di luar, mereka tidak dizinkan untuk membawa makanan ataupun minuman, kalaupun ada yang berbaik hati mengizinkan jumlahnya sangat sedikit sekali. Makanya mereka sangat senang, ketika kami datang dengan membawa banyak makanan, karena bagaimanapun jumlah makanan yang disedikan pihak DC sangat terbatas. Masalah sholat dan bacaan bermutu lainnya masih menjadi kendala. Untuk 80 orang, mereka hanya memiliki satu mukena dan satu al-quran. Demi menyikapi hal ini, FORMMIT dan seluruh umat muslim yang ada di Taiwan hendaknya dapat bergerak lebih cepat lagi dalam membantu pemenuhan kebutuhan yang urgent bagi saudara-saudara kita ini.
Hampir satu jam bersilaturrahmi dengan mbak-mbak yang ada di DC, silaturrahmi dilanjutkan ke tempat detainee pria yang berjumlah 10 orang. Kali ini pertemuan sungguh terasa memilukan, karena kami hanya bisa berkomunikasi dari balik jeruji. Tanpa alasan yang jelas, pihak DC pria tidak mengizinkan para detainee pria asal Indonesia untuk bertemu dengan kami secara layak. Namun semangat Idul Fitri tidak pupus dari kami, walau terhalang jeruji besi, kami tetap mengumandangkan takbir bersama-sama. Tak terelakkan, satu per satu bulir air mata jatuh di pipi.
Permasalahan yang dihadapi detainee pria hampir sama dengan detainee wanita. Bedanya, detainee pria memiliki kelengkapan administrasi yang cukup dan memiliki dana untuk pulang. Namun dipersulit dengan beberapa alasan yang tidak masuk akal, seperti tiket pesawat yang habis karena sedang ada olimpiade di Taiwan. Apakah ada ratusan atlit Indonesia yang pulang-pergi ke Taiwan, sehingga persediaan tiket dari seluruh maskapai tidak bersisa sama sekali? Terkait dengan hal ini, rekan-rekan pekerja di DC meminta bantuan untuk mengkomunikasikan masalah ini. Diantara sekian banyak pertanyaan, ada satu pertanyaan yang tidak dapat kami jawab, yakni, "Kemana KDEI? Mengapa mereka tidak pernah mengunjungi kami? Bahkan di hari yang fitri seperti ini?"
Silaturrahmi dengan detainee pria berlangsung cukup cepat, tak lebih dari 30 menit. Karena kondisi yang tidak nyaman untuk berlama-lama. Melalui kami, mbak-mbak dan mas-mas yang ada di DC menyampaikan ucapan terimakasihnya kepada FORMMIT, China Moslem Association dan pihak lainnya, yang masih menyediakan waktu untuk berbagi dihari nan fitri. Melengkapi kebahagian tersebut, pihak Masjid Taipei memberikan sumbangan berupa uang tunai NTD 500 kepada setiap detainee.
Semoga rahmat dan limpahan karunia Allah berhamburan dihari nan fitri, dengan meringkan beban saudara kita di DC dan keluarga yang di tinggalkan. Dan kita pun diberikan kelapangan hati, untuk senantiasa terus menjalin silaturrahmi dan membantu sesama saudara muslim kita. Amin..yaa rabbal ‘alamiin. [yuherina_gusman]
|

