|
Written by mediaFORMMIT
|
|
Wednesday, 10 March 2010 20:05 |
|
Rabi’ bin Hutsaim, seorang tabiin yang terkenal memiliki sikap selalu membersihkan jiwa mengatakan, “Seandainya manusia itu tahu tentang aibnya sendiri niscaya tak ada orang yang akan mencela diri orang lain.” Suatu ketika ia pernah ditanya seorang sahabatnya, “Wahai Abu Yazid –panggilan Rabi’- mengapa engkau tidak pernah mencela orang lain?” Ia menjawab, “Demi Allah, jiwaku saja belum tentu diridhai Allah lalu untuk apa aku mencela orang lain? Sesungguhnya banyak manusia yang takut kepada Allah karena melihat dosa-dosa yang dilakukan oleh orang lain. Tetapi tidak sedikit di antara mereka yang seperti tidak merasakan hal itu dengan dosa yang ia lakukan sendiri.” (Tabaqat Ibnu Sa’ad, 6/168) Saudaraku, Siapa di antara kita yang kuat menahan malu, andai kita tahu daftar kesalahan, kedurhakaan, kemaksiatan, dan pelanggaran yang kita lakukan? Siapa di antara kita yang mampu menahan rasa hina yang tiada tara, jika saja kita mengetahui catatan perilaku buruk dan dosa yang telah kita lakukan? Hidup yang sudah kita lalui singkat. Dua puluh, tiga puluh, atau empat puluh tahun? Tapi siapa yang kuat menahan penyesalan akibat keburukan dan dosa yang kerap kita lakukan berulang-ulang?
|
|
Read more...
|
|
|
Written by mediaFORMMIT
|
|
Tuesday, 09 March 2010 19:47 |
|
Oleh : H. Mas’oed Abidin
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa (orang) memperhatikan apa yang diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Q.S. Al Hasyr : 18)
Adalah menjadi kewajiban setiap orang merancang dan mempersiapkan hari esok yang lebih baik.
Nabi Muhammad SAW mengingatkan bahwa seorang akan merugi kalau hari esoknya sama saja dengan hari ini, bahkan dia menjadi terkutuk jika hari ini lebih buruk dari kemarin. Seseorang baru dikatakan bahagia, jika hari esok itu lebih baik dari hari ini.
Membangun hari esok yang baik, sesuai dengan ayat (wahyu Allah SWT) di atas dimulai dengan perintah bertaqwa kepada Allah dan di akhiri dengan perintah yang sama. Ini mengisyaratkan bahwa landasan berfikir, serta tempat bertolak untuk mempersiapkan hari esok haruslah dengan taqwa.
Semestinya orang Mukmin punya langkah antisipatif terhadap kemungkinan yang dapat terjadi esok disebabkan kelalaian hari ini.
Seorang mukmin sudah dapat memprediksi dan mempersiapkan hari esok yang lebih baik, dinamis, lebih mapan, lebih produktif dari pada hari ini.
Simpulannya, mesti ada peningkatan prestasi dari hari ke hari. Hari esok dapat berarti masa depan dalam kehidupan pendek di dunia ini.
Hari esok juga berarti pula hari esok yang hakiki, yang kekal abadi di akhirat kelak.
Hari esok mesti dirancang harus lebih baik dari hari ini, dengan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, dengan melaksanakan lima “M ” ; yaitu Mu’ahadah, Mujahadah, Muraqabah, Muhasabah, dan Mu’aqabah.[1]
|
|
Read more...
|
|
Written by mediaFORMMIT
|
|
Monday, 08 March 2010 12:58 |
|
''Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar)”. Ketika berbicara tentang akhirat kadangkala hanya mampu menyentuh hati dalam dimensi waktu sejenak yang tidak bertahan lama. Itu terjadi bukan karena akhirat tidaklah begitu penting untuk selalu diingat, namun karena persentuhan antara dunia yang berada nyata secara terus menerus dan bayangan akhirat yang seakan masih jauh membuat pandangan akan kehidupan akhirat mudah terlupakan hanya dalam beberapa saat setelah ia nampak begitu jelas di depan mata yang setelah mentadaburi ayat-ayat Allah yang kadang disertai dengan cucuran air mata. Orang-orang yang ada di dalam hatinya iman selalu tersadarkan jiwanya untuk mengingat hari akhirat. Namun ada di antara manusia yang tak pernah terbayangkan sama sekali baginya bagaimana akhirat? Sedangkan hari-harinya dipenuhi dengan kesibukan dunia, harta dan nafsu. Maka sangat wajar kalau akhirat bukanlah hal yang penting untuk menjadi bahan pikiran dan ambisi demi mencapai kebahagiaan hidup di sana kelak. Mata hatinya telah ditutupi dengan keduniaan sehingga akhirat tidak lagi nampak. Di dalam surat Al-Isra ayat 72, Allah berfirman: “Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar)”.
|
|
Read more...
|
|
Written by mediaFORMMIT
|
|
Wednesday, 03 February 2010 07:16 |
|
Dua hal yang harus dipenuhi dalam usaha apapun untuk mencapai tujuan yang diinginkan adalah kejujuran dan profesionalisme (keahlian dalam menjalankan tugas). Ibarat sayap keduanya merupakan satu kesatuan, saling mendukung tak terpisahkan. Bila satu hilang, perjalanan usaha akan timpang dan akan menyebabkan kecelakaan pada pihak- pihak terkait. Berbagai perusahaan atau instansi bahkan negara mengalami krisis, karena hilangnya salah satu dari kedua unsur utama tersebut. Kejujuran bagi profesionalisme ibarat ruh bagi jasad. Profesionalisme akan tampil loyo, tak bertenaga bila terus digerogoti dengan tindak kebohongan para pelakunya. Begitu juga kejujuran tidak akan tampil secara maksimal dengan hasil yang diharapkan tanpa dukungan profesionalisme.
Allah SWT menegakkan alam ini dengan sangat sempurna, tidak ada sedikitpun tanda bahwa Allah main-main, tergambar didalamnya nilai-nilai kejujuran dan profesionalisme. Allah berfirman: “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak akan melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang atau cacat? Kemudian ulangi pandanganmu sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat” (QS. 67:3-4).
|
|
Read more...
|
|
Written by mediaFORMMIT
|
|
Thursday, 17 December 2009 01:15 |
|
Mari kita luangkan waktu sedikit saja untuk merenungi diri, bertafakur, muhasabah dan mengevaluasi diri kita. Sebelum Allah Yang Maha cermat perhitungan-Nya menghisab kita di yaumul akhir.
"Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang, karena sungguh mudah hisab dihari kiamat bagi orang yang melakukan hisab di dunia. Maka berhias dirilah dengan amal sholeh untuk sebuah perhelatan akbar pada hari kiamat."
Kita tidak tahu, kapan Allah menghisab setiap lembar kehidupan kita. Bahkan kita tidak tahu kapan detak jantung kita berhenti. Setahun lagi, sebulan lagi, sejam lagi, atau mungkin setelah kita membaca catatan ini.
"Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al Hasyr: 18)
"Dan tidak seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya esok. Dan tidak seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengatahui lagi Maha Mengenal." (QS. Lukman : 34)
|
|
Read more...
|
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 Next > End >>
|
|
Page 1 of 4 |